Oleh: Anik Marwati,S.Pd.,M.Pd.
Setiap kali kita minum kopi di kafe atau memakai batik di acara resmi, mungkin jarang terpikir bahwa produk-produk itu sebenarnya bisa menjadi bintang di pasar dunia. Indonesia punya kekayaan luar biasa seperti kopi Gayo, batik Pekalongan, rotan Cirebon, hingga tenun Lombok tapi sayangnya, sebagian besar anak muda kita belum melihatnya sebagai peluang ekspor. Kita masih sering bangga membeli produk luar negeri, tapi belum cukup percaya diri menjual produk sendiri ke dunia. Padahal, di era digital ini, siapa pun sebenarnya bisa menjadi eksportir bahkan dari desa kecil sekalipun. Yang dibutuhkan hanyalah pola pikir global dan kebanggaan terhadap produk lokal. Dan keduanya bisa dimulai dari tempat yang paling sederhana yaitu sekolah.
Sekolah: Ladang Menanam Pola Pikir Global
Pendidikan di Indonesia masih cenderung menekankan teori dan hafalan. Siswa belajar tentang perdagangan internasional, tapi jarang melihat bagaimana produk di sekitar mereka bisa punya nilai jual global. Padahal, sekolah bisa menjadi tempat paling strategis untuk menanamkan semangat ekspor sejak dini. Guru, misalnya, bisa memperkenalkan kisah sukses produk lokal yang sudah mendunia. Bagaimana kopi dari petani di Aceh diseduh di kafe Paris, atau kerajinan bambu dari Cebongan Sleman dipamerkan di toko Jepang. Cerita nyata seperti ini membuka mata siswa bahwa produk daerah mereka bukan sekadar barang biasa, tapi punya potensi ekonomi besar jika diolah dengan inovasi dan kualitas. Di sinilah pentingnya menanamkan konsep glocal (think globally, act locally). Artinya, berpikir besar tanpa meninggalkan jati diri lokal. Siswa diajak memahami bahwa produk sederhana dari kampung bisa mendunia jika dikemas dengan ide dan semangat.
Belajar dari Potensi Sekitar
Membicarakan ekspor di kelas tidak harus dimulai dari teori ekonomi rumit. Cukup mulai dari potensi yang ada di sekitar. Misalnya, sekolah di Temanggung bisa mengajak siswa belajar langsung dari petani kopi, sekolah di Lombok bisa berkunjung ke sentra tenun, atau sekolah di Turi Sleman Yogyakarta mengenal lebih dekat kebun salak. Dari sana, siswa dapat diberi proyek sederhana: membuat produk olahan, mendesain kemasan, menulis deskripsi dalam bahasa Inggris, hingga mensimulasikan transaksi ekspor. Proyek semacam ini bukan hanya melatih kreativitas, tapi juga membentuk rasa bangga terhadap produk lokal. Belajar jadi lebih bermakna karena siswa melihat sendiri bahwa ilmu yang mereka pelajari punya dampak nyata bagi masyarakat sekitar. Mereka belajar bahwa inovasi dan semangat bisa membawa produk kecil dari desa ke pasar dunia.
Era Digital: Gerbang Baru Dunia Ekspor
Generasi muda saat ini hidup di tengah kemajuan teknologi. Mereka sudah akrab dengan media sosial, belanja online, dan konten digital. Maka, mengapa tidak memanfaatkan keterampilan ini untuk hal yang lebih produktif seperti ekspor digital? Sekolah bisa menjadi tempat untuk mengenalkan dasar-dasar pemasaran digital (digital marketing) dan perdagangan elektronik (e-commerce). Siswa bisa belajar membuat toko daring, mengelola akun promosi di media sosial, hingga memahami cara kerja platform global seperti Amazon, Etsy, dan Alibaba. Dengan begitu, mereka tahu bahwa ekspor kini tidak lagi harus melalui pelabuhan besar atau perusahaan besar. Dengan ponsel dan koneksi internet, siswa di desa pun bisa menjual produknya ke luar negeri. Dunia sudah berubah dan pendidikan harus mengajarkan bagaimana ikut bergerak di dalamnya.
Bangga Produk Lokal, Bangga Indonesia
Semangat ekspor tidak akan tumbuh tanpa rasa bangga terhadap karya sendiri. Karena itu, sekolah perlu menjadi tempat lahirnya kebanggaan terhadap produk lokal. Kegiatan seperti “Hari Produk Lokal Sekolah”, pameran karya siswa, atau lomba inovasi produk daerah bisa menjadi cara sederhana untuk menanamkan nilai itu. Ketika siswa bangga pada hasil bumi dan budaya daerahnya, mereka akan lebih termotivasi untuk memperkenalkannya kepada dunia. Rasa bangga inilah yang menjadi bahan bakar semangat ekspor. Dari kebanggaan, tumbuh keyakinan. Dari keyakinan, lahir keberanian untuk bersaing secara global.
Kolaborasi Adalah Kunci
Tentu, pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Dunia industri, UMKM, dan pemerintah perlu terlibat aktif. Sekolah bisa menjalin kerja sama dengan pelaku ekspor, pengusaha lokal, atau dinas perdagangan. Misalnya, program magang di UMKM yang sudah menembus pasar internasional, kuliah tamu bersama eksportir sukses, atau kunjungan ke pelabuhan dan pusat logistik. Dari situ, siswa bisa melihat langsung proses ekspor: mulai dari produksi, perizinan, hingga pengiriman barang. Kolaborasi seperti ini menciptakan pembelajaran yang tidak hanya teoretis, tetapi aplikatif dan inspiratif. Selain itu, lembaga pemerintah seperti Kementerian Perdagangan atau Kementerian Koperasi dan UKM juga dapat berperan dalam menyediakan pelatihan, sertifikasi, dan dukungan bagi sekolah yang ingin mengembangkan kurikulum berbasis kewirausahaan global.
Membangun Generasi Duta Ekspor
Menanamkan semangat ekspor sejak dini bukan semata soal ekonomi, tapi soal karakter dan jati diri bangsa. Anak-anak yang tumbuh dengan rasa cinta terhadap produk lokal dan wawasan global akan menjadi generasi yang tangguh, kreatif, dan percaya diri. Mereka bukan hanya calon pengusaha atau eksportir, tapi juga duta ekspor wajah Indonesia di pasar dunia. Dari tangan mereka, kopi Gayo, batik, atau tenun tidak hanya menjadi barang dagangan, tapi simbol budaya dan kebanggaan nasional. Contohnya sudah banyak. Petani salak di Sleman kini mengekspor produknya ke Asia Timur, pengrajin rotan di Cirebon mengirim mebel ke Eropa, dan perajin perak di Bali memasarkan karya mereka lewat internet ke Amerika. Semua berawal dari keyakinan bahwa karya lokal pantas bersaing di pasar global.
Penutup: Saatnya Indonesia Jadi Bangsa Eksportir
Pendidikan punya kekuatan besar untuk membentuk masa depan bangsa. Ketika sekolah tak hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi juga menanamkan semangat kewirausahaan dan kebanggaan terhadap produk lokal, maka lahirlah generasi baru yang siap bersaing di panggung dunia. Kita tidak bisa terus-menerus menjadi konsumen global. Saatnya anak-anak Indonesia menjadi pelaku membawa nama baik bangsa lewat karya dan produk mereka sendiri. Karena sejatinya, semangat ekspor tidak selalu dimulai dari pelabuhan besar atau gedung megah. Kadang, semuanya dimulai dari ruang kelas sederhana, dari guru yang inspiratif, dan dari siswa yang percaya bahwa hasil karya kecil mereka bisa dikenal dunia. Dan dari ruang kelas itulah, akan lahir generasi baru: generasi eksportir muda Indonesia yang siap membawa Indonesia lebih percaya diri di pasar global.
